Monday, May 2, 2011

@ Hardiknas 020511 Dedicated :: for Guru Indonesia ::

"Terima kasihku ku ucapkan. Pada guruku yang tulus. Ilmu yang berguna, selalu dilimpahkan. Bekalku nanti. Setiap hari ku dibimbingnya.  Agar tumbuhlah bakatku. Kan ku ingat selalu nasehat  guruku".
Lagu di atas pasti tak asing di telinga kita. Kalau tidak salah, judulnya  “Terima Kasihku”. Saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar, biasanya menjadi pilihan ketika disuruh ke depan kelas bernyanyi pada pelajaran Kesenian.
Setelah orang  tua, gurulah yang menjadi orang tua  selanjutnya, tempat kita belajar tentang kehidupan. Sehingga sekolah, sejatinya menjadi rumah kedua bagi kita.  Disana kita belajar, berdiskusi dan bermain separuh dari waktu kita habiskan tempat itu, tanpa ada orang tua yang mendampingi  hanya ada bapak dan ibu guru serta teman-teman. Namun tak jarang sekolah sebuah momok bagi segelintir anak. Sebagian dari mereka , ada yang takut bahkan tak mau lagi belajar di sekolahnya. Ternyata ia pernah disakiti. Rambut-rambut halus yang ada di daerah pipi (jambang) dicabut paksa oleh sang guru. Alasannya sangat sederhana, ia tak mengerjakan PR hari itu.
Guru, digugu dan ditiru. Begitu bunyi pepatah. Sebagai pendidik, sudah sepatutnya menjadi pribadi yang mampu di contoh. Idealnya seorang guru adalah sosok yang mampu menjadi teladan. Bukan karena dia faham (cakap) pada bidang mata pelajaranya. Namun juga akhlaknya. Guru juga harus mampu membentuk watak anak didik dengan memberikan contoh akhlak  yang baik.
Seorang guru dituntut untuk bisa berkembang seiring perubahan itu. Mengembangkan potensi diri, dan tidak pernah putus asa untuk terus belajar. Menyadari kekurangan diri sendiri dan ingin terus maju. Sejatinya seorang guru juga harus bisa menerima saran dan kritik dari pihak luar. Baik berkenaan sikap maupun tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan ketika dia menjalankan tugas dalam proses belajar mengajar. Harusnya kita selalu bercermin pada sosok guru teragung kita, Rasulullah saw . atau pribadi-pribadi mulia lainnya yang banyak di ceritakan sejarah. Kesabaran yang di contohkan oleh nabi saw saat mendengarkan para sahabat menghafal ayat-ayat Al Qur’an atau ketekunan Al Farabi dan ibnu sina ketika mentrasfer ilmu pada murid-muridnya.
Kehadiranya selalu dirindukan. Begitulah sosok ideal guru yang di siratkan  oleh pepatah di atas. Ilmunya ibarat air segar yang mengguyur murid-muridnya ketika kehausan . pribadinya, ibarat cermin bagi murid-muridnya.  Selalu memancarkan bayangan yang sama. Karena ilmu yang di beri , lahir dari keikhlasan hati. Wujud syukur atas semua nikmatNya yang bertebaran di alam semesta.
Profesi guru, menurut  Kadir Baraja, pemerhati pendidikan di jawa timur, dalam sebuah tulisannya tentang pendidikan, kemunduran dunia pendidikan di Indonesia saat ini salah satunya d akibatkan oleh rendahnya minat SDM kita pada profesi ini. Khususnya mahasiswa. Kebanyakan  ‘yang pinter’ dari mereka malah memilih jurusan kedokteran atau ekonomi karena di anggap lebih bergengsi. Sementara jurusan kependidikan alias guru, samasekali  tak punya kelas. Maka jadillah ia sebagai pilihan selanjutnya, setelah pilihan utama tidak juga lulus.
Guruku teladanku bukan sekedar permainan kata. Karena padanya tersirat makna yg sangat dalam. Bahasanya menjadi penyejuk hati yang gundah. Perilakunya menuntun pada semua kebaikan. Dukungannya menjadi generator penggerak jiwa-jiwa yang haus akan prestasi . Guru-guru seperti inilah yang pantas menerima penghormatan. Penghargaan tertinggi berhak di sematkan pada mereka. Karena loyalitas dan dedikasi telah diberikan karena waktu dan perhatian telah dikorbankan. Hanya satu niat yang terpatri di jiwa. Mendidik anak-anak negeri dengan sebaik-baiknya, sepenuh hati.  tanpa  mengaharap imbalanSemua demi kemajuan dunia pendidikan di negeri tercinta ini. Demi generasipenerus yang kelak akan mengharumkan bangsanya dengan berjuta prestasi.   

No comments:

Post a Comment