Letak madrasah itu sangat unik. Bangunannya berdiri di antara kompleks perumahan yang terbilang cukup elit dan perkampungan kumuh. Madrasah itu memiliki masjid yang besar dan tiga ruangan kelas untuk belajar. Jika kita melihat dari kompleks perumahan tampaknya tidak seperti sekolah, mungkin karena bangunan masjidnya yang lebih menonjol daripada bangunan lainnya. Di tambah lagi belum ada papan nama yang terpampang di depan sekolah. Sekolah itu cukup bersih, di sebelah timur pojok sekolah terdapat lapangan untuk olahraga. Meski masih agak panas karena belum ada pohon-pohon pelindung yang ditanam, madrasah itu cukup nyaman dan representatif untuk kegiatatan belajar mengajar.
Anak berperawakan kira-kira 115 cm, kulit agak cerah dibanding teman-temannya, berbadan kurus, dan sering memakai peci memasuki gerbang sekolah. Pagi itu, sebut saja Dirga, tampak sangat terburu-buru ke sekolah, meski jam masih menunjukkan pukul 06.30, dia begitu semangat untuk segera tiba di sekolahnya. Jarak antara rumahnya ke sekolah tidak terlalu jauh, yah, memang anak-anak yang bersekolah disana sebagian besar tinggal di lingkungan perkampungan yang bersebelahan dengan bangunan sekolah. Dirga tercatat sebagai siswa kelas III di Madrasah itu, karena dia anak yang rajin, dia di angkat menjadi ketua kelas di kelas III. Semenjak saya melihat anak itu, saya sudah tertarik untuk berusaha mengenalnya.
Keinginan itu makin kuat, sejak suatu minggu pagi saya bersepeda menuju pinggiran kotaku. Pinggiran kotaku dikelilingi pantai yang indah, Pantai Losari begitu orang menyebutnya, yah, pantai ini merupakan salah satu kebanggan kota kami. Setiap minggu pagi, warga kota akan tumpah ruah disana. Hari Minggu pagi di sekitar pantai Losari memang sudah ditetapkan sebagai kawasan berolahraga bagi warga kota sesuai program walikota Makassar Warga Kota Makassar adalah masyarakat yang senang berolahraga. Jalan-jalan yang mempunyai akses kesana sengaja ditutup sejak pukul 06.00 - 10.00. Pada hari Minggu pagi, kita bisa menemui orang-orang yang berjalan santai, naik sepeda, atau sekedar duduk di anjungan pantai. Para pedagang pun tak mau melewatkan kesempatan itu segala jenis jualan ada disana, pokoknya ramai sekali.
Pagi itu, suasana yang sama menyambut saya, tua-muda, anak-dewasa, laki-perempuan, tumplek di sana. Hari itu, pertama kali aku naik sepeda ke pantai, karena kebetulan malamnya saya nginap di rumah nenek, jarak rumah nenek ke pantai terbilang dekat. Bersama saudara sepupu, saya bersepeda sambil berniat untuk makan bubur ayam. Sepanjang kami menyusuri pantai saya melihat seseorang anak yang lagi berjalan berdua bersama temannya. Anak yang satu membawa gitar, dan yang satu lagi hanya berlenggang santai. Setelah sejenak saya perhatikan sepertinya mengenal anak itu. Yah, dia adalah salah satu siswaku di sekolah. Saya pun masih melihatnya dari jauh saya ingin mengamati kegiatannya di pagi itu. Dia berjalan agak repot dengan badannya yang terbilang cukup kecil harus menggendong sebuah gitar akustik ukuran untuk orang dewasa. Lucu juga saya melihat pemandangan seperti itu, tapi dia begitu santai sambil menawarkan lagu kepada orang-orang. Dengan hanya berjarak kurang lebih 1 meter saya terus memantau dari sana, mungkin karena asyiknya bernyanyi, anak itu tidak sadar jika dari tadi saya memperhatikannya. Sejurus kemudian saya pun menghampirinya, awalnya dia sangat kaget dan terkesan malu-malu kepadaku. Dirga memang tipikal anak yang pemalu, di kelas pun demikian. Pagi itu, Dirga bersama dengan salah seorang adik kelasnya, kami pun ngobrol di pinggir jalan. Dari situ pun saya tahu, kalau mereka di pantai sudah sejak semalam. Kata mereka, kalau malam minggu kan pengunjung pantai sangat ramai dan sampai larut malam, mereka pun nginap di pantai, gak jelas mereka tidur dimana mungkin di emperan toko. Wah, anak sekecil mereka harus menanggung beban seperti itu. Pagi pukul 10.00 baru mereka pulang. Melihat dari mata mereka yang sayu pasti mereka kurang tidur. Saya tidak bisa membayangkan tubuh kecil yang kurus dan setiap malam terkena angin pantai. Allah Maha Adil, anak yang hidup di jalan seperti ini, kadang jarang sakit malah anak yang ada di rumah-rumah, dikontrol terus kondisi kesehatannya oleh orang tua mereka malah lebih sering jatuh sakit. Yah, Dirga dan temannya dengan kehidupan malam kota metropolis, mungkin karena sudah terbiasa dan mereka merasa ini bukan beban mereka malah mereka tampak baik-baik saja. Mungkin disinilah pikir mereka tempat bermain dan hiburan mereka. Berkumpul bersama anak jalanan, dengan kehidupan keras pastinya. Mereka tidak punya pilihan, sejak kecil sudah dibiasakan oleh orang tua mereka untuk hidup di jalan, bekerja, membantu orang tua mencari nafkah. Mereka bernyanyi dan tak peduli suara mereka yang sumbang, terus saja bernyanyi mengharap rasa simpatik para pengunjung. Sungguh ironis memang, mungkin di sisi lain di saat mereka harus bekerja, anak yang lain mungkin di akhir pekan berkumpul bersama keluarganya, makan bersama, hang out bersama keluarga, mengunjungi tempat rekreasi. Mungkin, hal seperti itu sangat jarang mereka rasakan, mungkin kehidupan yang layak hanya dapat mereka saksikan di layar kaca, atau hanya sekedar mimpi-mimpi mereka bila melihat seorang anak yang merengek sama orang tuanya untuk dibelikan ini itu. Yah, hanya dengan modal merengek sedikit, keinginannya langsung terkabulkan. Sungguh hal yang sangat mustahil bagi mereka.
Antara bersekolah dan mencari nafkah, itulah yang harus dilakoni anak sekecil itu. Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu, yah, seperti syair lagu penyanyi idola saya Iwan Fals. Waktunya habis hanya untuk bekerja membantu orang tua dan belajar. Sejak pagi itu saat kami bertemu, banyak hal yang saya pahami. Saya terhenyak, dengan kondisi yang harus mereka hadapi. Demi impiannya, anak sekecil itu ikhlas melakukan apapun demi untuk membantu kedua orang tuanya. Untuk biaya sekolah sih, sekarang ini biayanya tidak perlu dirisaukan, pendidikan sekolah saat ini serba gratis dan banyak bantuan, meski tidak bisa dipungkiri dana bantuan apa pun bentuknya kadang harus di sunat sana-sini baru sampai ke tangan yang berhak. Namun, untuk kebutuhan sehari-hari mereka harus berjuang sendiri, kadang orang tua pun dengan terpaksa melibatkan anak-anaknya yang masih bau kencur harus merasa bertanggungjawab untuk mencari nafkah tambahan. Dulu sebelum saya mengenal dunia anak jalanan, setiap saya ke pantai bersama teman-teman atau keluarga, kami sering terusik dengan segerombolan pengamen jalanan yang tidak bisa membuat kami tenang dan nyaman duduk santai menikmati indahnya Pantai Losari. Kadang, hanya karena alasan itulah saya agak malas untuk ke pantai. Rasa kasihan dan simpatik ada, hanya waktu itu aku tidak pernah serius untuk lebih jauh menengok kehidupan para anak jalanan. Betul juga kata orang, pengalaman adalah guru yang paling bijaksana. Pagi itu, setelah traktir mereka makan bubur ayam, saya pun beranjak pulang dengan membawa rasa ingin tahu yang lebih besar lagi.
Semenjak pertemuan kami itu, saya sudah semakin sering memperhatikan tingkah laku anak itu di sekolah. Meski hal itu saya tidak terlalu tampakkan takutnya dia merasa minder. Prestasinya di kelas di atas rata-rata teman sekelasnya. Kedisiplinannya pun baik, dia selalu datang lebih awal, membersihkan kelas. Bajunya rapi, sepatunya bersih. Mungkin ibunya sangat memperhatikan kebersihan anaknya. Dari hasil interview saya ke Dirga di sela-sela jam pelajaranku di kelasnya, saya tahu dia anak ke tiga dari tiga bersaudara. Kakaknya ada yang putus sekolah, satu kakak perempuannya Alhamdulillah, masih bersekolah di sebuah sekolah kejuruan. Ibunya dan Bapaknya juga bekerja, Bapaknya narik becak, kata Dirga Bapaknya kadang sampai larut malam narik becak, Ibunya jualan minuman dan makanan kecil di pantai, dia dan kakaknya ngamen di pantai. Kesehariannya pun banyak dia ceritakan padaku. Katanya setiap pagi dia bangun pukul 05.00 untuk sholat shubuh bersama Bapaknya. Setelah itu, kadang dia tidur lagi sedikit dan dibangunkan ibunya pukul 06.00, setelah itu dia akan langsung mandi, dan terus sarapan. Pukul 06.30, dia mulai berangkat ke sekolah. Dia tidak perlu minta uang jajan lagi ke Ibunya. Setorannya tiap malam sudah dipotong untuk dia. Kadang kalau dia setor ke Ibunya 25.000 ini pendapatan Dirga kalau akhir pekan, kalau hari biasa biasanya hanya berkisar 10.000 – 15.000. Ibunya akan memberikannya 5.000 rupiah untuk upahnya. Uang yang dihabiskan untuk jajan paling cuman 2.000 dan sisanya dia tabung ke wali kelasnya. Kegiatan di sekolah yang cukup padat membuat para anak didik sangat senang di sekolah. Pagi-pagi sebelum belajar mereka diwajibkan untuk sholat Dhuha, sholat berjamaah di waktu Dzuhur
Dirga anak yang baik dan berprestasi. Setiap yang diperintahkan oleh gurunya pasti dia kerjakan dengan sungguh-sungguh. Saya juga cukup heran dengan ini anak, meski dia harus sampai begadang semalam suntuk mencari nafkah di pantai, paginya dia tidak pernah ngantuk atau malas-malasan di sekolah seperti teman lainnya yang berprofesi sama dengan dia. Daya tangkap Dirga terhadap pelajaran juga lumayan baik, meski dia akan selalu bertanya sampai dia yakin kalau jawabannya sudah betul. Banyak anak-anak negeri ini yang hidup seperti Dirga, mata-mata sayu mereka mengharap kasih sayang yang mereka kurang dapatkan di rumah-rumah mereka. Dirga dan anak-anak jalanan lainnya haus kasih sayang figur seorang pendidik yang bisa menjadi orang tua kedua mereka. Sekolah dituntut bukan hanya sebagai tempat untuk belajar, tetapi lebih dituntuk sebagai tempat tumbuh kembangnya mental seorang anak dan untuk menyiapkan generasi penerus bangsa yang berakhlak Qur’ani serta siap akan perubahan zaman.
by. Efhy>tugas tulisan dari LPI DD (Deskripsi seorang anak didik) >>penaphionkfhy.blogspot.com<<