Wednesday, June 6, 2012

Perempuan di Depan Pintu . . .


>> sajak tentang masa lalu dan masa depanmu<<

Disana waktu berlalu
Membawa puing-puing catatan
Di dinding dan di lubang jendela yang retak

Angin laut telah menjelma api
Tapi ingatanmu masih setia pada desirnya
Saat kelembutan itu mengajarimu
Bagaimana memetik kecapi atas kesunyian
Di penghujung setiap luka

Telah kudengar senandung camar di bibirmu
Menepiskan nyala kesedihan di sepanjang garis pantai
Dan bisik ombak itu kian tegas
Melilitkan hymne kesunyian di atas lilin dalam kamarmu

Tapi kerap kubayangkan perahu
Sebagai utusan dari matahari dan lilin
Yang membuka ladang bagi pohon rindumu
Dimana waktu memanggul angin laut
Meletakkanmu di samping dadanya yang labuh menjadi dermaga
Lantas demikian makna kebahagiaan itu bagiku?

Sajak-sajak terus berkibar
sejak kibasan pertama bendera kapal
tak ada lagi sedih dari bukit-bukit karang yang digulung ombak
seperti lenguh senyummu saat mimpi merapat
dalam sentuhan nyata masa datang
selain ramai, tak ada bisik kesedihan
yang menyelimuti tubuh rampingmu di depan pintu

sebagai perempuan yang menunggu perahu
menyambut desir angin laut
dan menyelipkan rindu pada arakan kabut
yang menyembunyikan dentam gemuruh hujan
>>doaku untuk kebahagiaanmu kelak . . . .

                                                            >>200901 - 210910

No comments:

Post a Comment